Iman juga memaparkan hasil survei terhadap 239 guru yang memperlihatkan 92 responden merasakan bertambahnya beban kerja dan berkurangnya waktu belajar efektif sejak MBG berjalan.
Selain itu, sebagian guru turut menyampaikan persoalan keterlambatan gaji dan tunjangan, penurunan dukungan fasilitas pendidikan, serta kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan mereka.
Baca Juga:
Isu Minyak Goreng dari Tangki ke Dapur SPPG Pinangsori Dinyatakan Hoaks
Kondisi tersebut membuat sebagian guru mulai mempertanyakan keberlanjutan karier di dunia pendidikan karena merasa kesejahteraan mereka semakin tertekan.
Iman menyebut, temuan di lapangan menunjukkan guru SMA berstatus P3K paruh waktu tidak menerima bayaran untuk jam tambahan mengajar.
Guru dalam posisi tersebut juga disebut tidak memperoleh honor sebagai wali kelas maupun kompensasi saat menjalankan tugas sebagai pembina kegiatan sekolah.
Baca Juga:
Permohonan JC Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ditelaah Jampidsus
Situasi itu kemudian memunculkan perbandingan antara pendapatan guru dan petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai lebih menjanjikan.
Di sisi lain, MBG juga dianggap mengganggu ritme belajar di sekolah karena distribusi makanan, pengambilan wadah, hingga pengembalian tempat makan kerap dilakukan saat jam pelajaran berlangsung.
“Dampak yang paling banyak disebut adalah berkurangnya jam efektif belajar karena proses distribusi dan pengelolaan makanan,” ujarnya.