Ia juga menilai MBG diterapkan terlalu seragam tanpa melihat perbedaan kondisi ekonomi dan kebutuhan tiap daerah.
Bagi Rika, program makan gratis lebih tepat difokuskan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi lebih mendesak.
Baca Juga:
Isu Minyak Goreng dari Tangki ke Dapur SPPG Pinangsori Dinyatakan Hoaks
Ia mempertanyakan efektivitas menu MBG karena selera makan setiap anak berbeda dan tidak semua makanan yang dibagikan akhirnya dikonsumsi.
Dalam sejumlah kondisi, makanan yang tidak sesuai selera anak justru berakhir terbuang.
Rika juga menyoroti aturan ketika siswa tidak masuk sekolah, tetapi orang tua tetap diminta mengambil paket MBG ke sekolah.
Baca Juga:
Permohonan JC Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ditelaah Jampidsus
Menurutnya, kebijakan seperti itu tidak selalu membantu karena justru menambah kerepotan keluarga.
Persoalan lain yang disampaikan Rika adalah kualitas menu selingan yang dinilai kurang sehat bagi anak.
Ia juga menyoroti penggunaan kemasan plastik dalam jumlah besar yang berpotensi menambah volume sampah di lingkungan sekolah.