Iman menilai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak bisa hanya dilihat dari sisi pemberian makanan, tetapi juga dari dampaknya terhadap proses pembelajaran di ruang kelas.
Bagi guru, waktu belajar yang terpotong berulang kali berisiko mengganggu penyampaian materi dan konsentrasi siswa.
Baca Juga:
Isu Minyak Goreng dari Tangki ke Dapur SPPG Pinangsori Dinyatakan Hoaks
Suara keberatan juga disampaikan Rika Iffati Farihah, orang tua murid asal Sleman yang dua anaknya menerima MBG.
Rika mengaku sekolah anaknya menerima program tersebut tanpa terlebih dahulu melibatkan wali murid dalam proses pengambilan keputusan.
Ia menyebut orang tua hanya menerima kebijakan yang sudah berjalan, tanpa ruang yang cukup untuk menyampaikan pandangan sejak awal.
Baca Juga:
Permohonan JC Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ditelaah Jampidsus
Rika juga mengungkap bahwa pihak sekolah pernah meminta orang tua tidak menyampaikan keluhan mengenai MBG melalui media sosial.
Keluhan tersebut, kata Rika, diarahkan agar disampaikan langsung kepada sekolah atau SPPG.
Menurut Rika, pola seperti itu justru membuat sebagian orang tua merasa ruang kritik terhadap program menjadi terbatas.