Kondisi tersebut membuat orang tua khawatir MBG tidak hanya berdampak pada pola konsumsi anak, tetapi juga membawa persoalan lingkungan.
Rika menilai anggaran besar untuk MBG seharusnya bisa dipertimbangkan kembali agar lebih menyentuh kebutuhan pendidikan yang dinilai mendesak.
Baca Juga:
Isu Minyak Goreng dari Tangki ke Dapur SPPG Pinangsori Dinyatakan Hoaks
Kebutuhan itu antara lain peningkatan kesejahteraan guru, penambahan koleksi buku perpustakaan, serta perbaikan ruang kelas.
“Sebagai orang tua murid, kami merasa tidak diuntungkan oleh MBG. Bahkan dampaknya cenderung negatif bagi anak-anak,” ujarnya.
Kesaksian guru dan orang tua murid di MK memperlihatkan sisi lain dari MBG yang selama ini lebih banyak diperkenalkan sebagai program pemenuhan gizi siswa.
Baca Juga:
Permohonan JC Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ditelaah Jampidsus
Sidang itu juga membuka kembali perdebatan tentang prioritas penggunaan anggaran pendidikan di tengah kebutuhan memperbaiki kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, dan fasilitas sekolah.
Di hadapan majelis hakim, kritik terhadap MBG tidak lagi berhenti pada soal menu makanan, tetapi meluas ke persoalan tata kelola, partisipasi orang tua, beban sekolah, dan arah kebijakan pendidikan nasional.
Perkara uji materi tersebut menjadi panggung penting untuk menguji apakah program unggulan pemerintah itu sudah benar-benar berpihak pada kebutuhan pendidikan atau justru menimbulkan beban baru bagi sekolah.