Lambat laun, pejabat-pejabat dari kementerian/lembaga, dosen-dosen, bahkan mahasiswa, mulai ikut bergabung.
Apalagi, dengan kelas yang kini dibuka secara daring dan disiarkan melalui YouTube, publik secara luas pun dapat mengikutinya.
Baca Juga:
Mabes Polri Gelar Upacara Sumpah Pemuda, Indeks Pembangunan Pemuda Harus Ditingkatkan
Pan Mohamad Faiz, peserta ”ngaji” pasal ini, mengatakan, materi yang disampaikan Jimly mengenai UUD 1945 lebih sistematis dan mudah dipahami oleh masyarakat awam, berbeda dengan bacaan di berbagai literatur.
Sebagai peneliti di bidang hukum tata negara, Faiz mengaku, program ”ngaji” pasal-pasal UUD 1945 sangat relevan di dalam pekerjaannya.
“Jadi, (ilmu yang didapat di “ngaji” pasal) semakin melengkapi wawasan, pengetahuan yang mungkin telah saya miliki dari membaca berbagai literatur,” tuturnya.
Baca Juga:
Peringati Hari Sumpah Pemuda Ke-96, Danrem 182/JO Bacakan Amanat Menpora
Pengajar Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto, melihat, selama ini pendidikan politik kepada para politisi muda belum mendapat perhatian penuh dari partai politik.
Ia lantas mengingatkan, gerakan literasi politik seharusnya fokus pada tiga hal, pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap politik (attitude).
Untuk mencapainya dibutuhkan kegiatan yang sistematis, terorganisir, dan memiliki peta jalan.