Dalam perjalanan tugasnya, Ngatimin mengaku dikejar-kejar
tentara Belanda. Bahkan ia harus bertahan hidup dengan makan seadanya atau
bahkan tanpa makan apapun selama 20 hari persembunyian.
"Makan daun atau tak makan sudah biasa," tuturnya.
Baca Juga:
Tak Disangka, Gelar Haji di Indonesia Ternyata Berasal dari Kebijakan Belanda
Ngatimin muda mengemukakan rasa bangganya bisa berjuang
untuk membantu tentara Indonesia terbebas dari Belanda. Setelah tahun 1951 ia
memutuskan untuk masuk sekolah rakyat yang ada di daerah Kecamatan Colomadu.
"Sampai sekarang saya tidak mendapat kabar apapun dari
komandan saya. Bahkan saya tidak tahu namanya karena tidak pernah tanya, dan
tidak bisa membaca," katanya.
Di usia senja yang semestinya dipakai untuk beristirahat,
Ngatimin tetap bekerja untuk membantu keluarga menyambung hidup dengan
berjualan mainan. Pada momen peringatan HUT RI ke-76, ia bersama memperingati
dengan upacara sederhana bersama keluarga di rumah.
Baca Juga:
Sejarah Nama Kota "Depok" yang Merupakan Sebuah Singkatan
"Saya tidak pernah lewat. Pasti ada upacara dan hormat
bendera. Tahun kemarin di dekat UNS, besok rencananya di rumah sama
anak-anak," ucapnya bangga.
Keinginan Jadi
Anggota Veteran