Dengan tulang selangka yang patah dan luka dalam di betisnya, ia kembali tidak sadarkan diri.
Butuh waktu setengah hari bagi Koepcke untuk benar-benar bangun. Awalnya, ia berusaha mencari ibunya tetapi tidak berhasil.
Baca Juga:
Nyaris Tergelincir, Batik Air Mendarat Miring di Tengah Hujan Deras
Namun, dalam perjalanan, Koepcke menemukan satu sumur kecil. Meskipun ia merasa putus asa saat itu, ia teringat nasihat ayahnya untuk mengikuti air ke hilir karena di sanalah peradaban akan berada.
Dia menjelaskan, “Sungai kecil akan mengalir ke sungai yang lebih besar, lalu ke sungai yang lebih besar dan lebih besar lagi, dan akhirnya Anda akan menemukan pertolongan.”
Maka Koepcke pun memulai perjalanannya yang sulit ke hilir. Terkadang ia berjalan, terkadang ia berenang.
Baca Juga:
Digadang-gadang Jadi Pesawat Paling Efisien, Dreamliner Air India Justru Alami Tragedi Maut
Pada hari keempat perjalanannya, ia bertemu dengan tiga penumpang lainnya yang masih terikat di kursi mereka.
Mereka mendarat dengan kepala terlebih dahulu di tanah dengan kekuatan yang sangat kuat sehingga mereka terkubur sedalam tiga kaki dengan kaki mereka menjulur lurus ke atas.
Salah satu dari mereka adalah seorang wanita, tetapi setelah memeriksa, Koepcke menyadari itu bukan ibunya.