WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tangis pecah dan jerit duka membelah suasana TPU Dungus Biru, Kelurahan Cigadung, Subang, ketika dua korban miras oplosan dimakamkan hampir bersamaan pada Kamis (12/2/2026).
Prosesi pemakaman yang berlangsung berdampingan itu menegaskan daftar hitam tragedi miras oplosan di Subang yang kini resmi menelan sembilan korban jiwa.
Baca Juga:
Seorang Anak Jalanan 12 Tahun Tewas Usai Minum Miras Oplosan, Dinkes Cianjur Tegur Pihak Apotek
Di balik angka kematian yang terus bertambah, terkuak kronologi mengerikan tentang bagaimana racun oplosan bekerja perlahan, merusak tubuh korban dari dalam hingga tak tertolong.
Salah satu korban, Yuyu Wahyudin (49), mengalami siksaan panjang sebelum akhirnya menyerah pada racun metanol yang terkandung dalam minuman oplosan.
Gejala awal keracunan mulai muncul sejak Senin (9/2/2026) malam, beberapa jam setelah Yuyu berpesta miras jenis Gembling, campuran alkohol botolan dengan minuman energi, di kawasan Pasar Inpres.
Baca Juga:
Buntut Kasus Miras Oplosan di Bogor dan Cianjur, BPOM Akan Perketat Minuman yang Belum Sertifikasi
Keluarga semula tidak menyadari bahwa kondisi Yuyu sudah memasuki fase kritis akibat racun yang bekerja senyap.
"Awalnya mata almarhum merah sekali," ujar Hasim, paman korban, dengan suara bergetar di TPU Dungus Biru, Kamis (12/2/2026).
Ia menuturkan keluarga sempat mengira kondisi itu hanya sakit mata biasa dan memberikan obat tetes mata.
"Kami kira sakit mata biasa, sempat diberi obat tetes mata," lanjut Hasim.
Memasuki Selasa (10/2/2026) pagi, kondisi Yuyu memburuk drastis ketika cairan kimia di tubuhnya mulai menyerang organ-organ vital.
Korban mengeluhkan perut terasa sangat panas seperti terbakar, menandakan racun telah bereaksi hebat di dalam tubuh.
"Selasa perutnya sakit luar biasa," kata Hasim.
Ia menyebut Yuyu sempat meminum obat maag untuk meredakan nyeri, namun kondisi justru kian parah.
"Almarhum sempat minum obat maag, tapi tidak lama kemudian dia langsung kejang-kejang," ujar Hasim.
Dalam kondisi panik, keluarga membawa Yuyu ke Instalasi Gawat Darurat RSUD Ciereng untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun daya rusak miras oplosan yang dikonsumsi sudah mencapai tahap fatal dan sulit dikendalikan tim medis.
Yuyu hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam dalam perawatan sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (11/2/2026) sore.
Hingga Kamis (12/2/2026) petang, data dari RSUD Ciereng dan pihak kepolisian mengonfirmasi jumlah korban tewas akibat tragedi miras oplosan di Subang telah mencapai sembilan orang.
Para korban dilaporkan meninggal secara bertahap sejak awal pekan setelah menghadiri pesta minuman oplosan di sejumlah lokasi berbeda dengan jenis minuman serupa.
Selain sembilan korban meninggal, dua orang lainnya masih berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di ICU RSUD Ciereng.
Satu korban lain dilaporkan sempat menjalani perawatan dan kini diperbolehkan rawat jalan.
Kisah Yuyu yang meninggalkan seorang anak berusia 19 tahun menjadi potret kelam bahaya laten miras oplosan yang terus menghantui masyarakat Subang.
Polisi telah menetapkan pemasok dan pemilik toko miras oplosan sebagai tersangka, namun nyawa para korban tak dapat dikembalikan.
Tragedi ini kembali menegaskan bahwa miras oplosan kerap tidak langsung membunuh, melainkan memberikan jeda waktu ketika organ vital seperti hati, ginjal, dan sistem pernapasan dihancurkan secara perlahan hingga berujung gagal napas atau henti jantung.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]