WAHANANEWS.CO, Jakarta – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut antusias pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai langkah monumental pemerintah untuk memperkuat transparansi transaksi ekspor komoditas sumber daya alam nasional dan memastikan kekayaan Indonesia dikelola secara optimal demi kesejahteraan rakyat.
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba mengatakan, pembentukan DSI menunjukkan keseriusan Presiden Prabowo Subianto dalam membangun tata kelola ekonomi nasional yang modern, terbuka, dan berpihak pada kepentingan bangsa.
Baca Juga:
Sentil PNM Mekaar, Prabowo Geram Bunga Kredit Mikro 24% Tapi Pengusaha Dapat 9%
“Ini adalah terobosan yang sangat visioner. Presiden Prabowo ingin memastikan bahwa setiap ton batu bara, nikel, bauksit, maupun komoditas strategis lainnya tercatat dengan benar, dihargai secara wajar, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara,” ujar Tohom Purba di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Tohom, praktik under invoicing dan transfer pricing selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu sumber kebocoran yang merugikan negara dalam jumlah sangat besar.
Dengan kehadiran DSI, pemerintah kini memiliki instrumen yang kuat untuk mengawasi volume, harga, hingga mekanisme pengiriman komoditas ekspor secara lebih akurat.
Baca Juga:
Danantara Siap Akuisisi Saham Strategis, MARTABAT Prabowo-Gibran: Hilirisasi Masuk Babak Baru
“Selama ini ada ruang yang memungkinkan sebagian nilai ekonomi bangsa mengalir keluar tanpa memberikan kontribusi optimal bagi penerimaan negara. Dengan sistem ini, Indonesia bergerak menuju era baru pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil dan akuntabel,” katanya.
Ia menilai langkah Danantara Indonesia di bawah kepemimpinan Rosan Roeslani juga mencerminkan semangat transformasi kelembagaan yang tidak hanya fokus pada investasi, tetapi juga pada penguatan sistem pengawasan berbasis teknologi digital.
“Ketika seluruh transaksi ekspor terintegrasi dalam platform digital, maka data menjadi lebih valid, pengawasan lebih efektif, dan kepercayaan investor akan meningkat. Ini merupakan fondasi penting bagi Indonesia untuk tampil sebagai kekuatan ekonomi global yang disegani,” tuturnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan kebijakan tersebut akan memberikan dampak positif yang luas, mulai dari meningkatnya penerimaan pajak dan royalti, penguatan cadangan devisa, hingga terciptanya ruang fiskal yang lebih besar untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan publik.
“Jika kebocoran berhasil ditekan, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Negara akan memiliki kapasitas yang lebih kuat untuk membangun kawasan industri, mempercepat hilirisasi, dan membuka lapangan kerja yang berkualitas,” ucapnya.
Ia juga menilai pendekatan bertahap yang akan diterapkan pemerintah sejak Juni hingga Desember 2026 merupakan kebijakan yang bijaksana karena memberi kesempatan kepada pelaku usaha untuk beradaptasi tanpa mengganggu aktivitas ekspor nasional.
“Pemerintah memberikan masa transisi yang sehat. Dunia usaha tetap dapat bergerak, sementara sistem baru dibangun secara matang berdasarkan prinsip good governance dan mekanisme pasar internasional,” jelas Tohom.
Menurutnya, pembentukan DSI akan menjadi salah satu warisan kebijakan penting pemerintahan Prabowo-Gibran dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi nasional.
“Bila sumber daya alam dikelola dengan transparan, maka kekayaan bangsa benar-benar kembali kepada rakyat. Inilah esensi dari ekonomi yang berkeadilan dan bermartabat,” pungkasnya.
Danantara Indonesia sebelumnya mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia untuk memperkuat keterbukaan transaksi ekspor komoditas sumber daya alam.
Tahap awal implementasi akan dimulai pada Juni 2026 melalui kewajiban pelaporan komprehensif seluruh transaksi ekspor, sebelum penggunaan platform digital secara penuh diberlakukan pada Januari 2027.
Danantara berharap kehadiran DSI dapat meningkatkan kualitas tata kelola perdagangan komoditas nasional, memperbesar nilai tambah ekonomi, dan memastikan manfaat sumber daya alam Indonesia dirasakan sebesar-besarnya oleh masyarakat.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]