WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan pelaku industri petrokimia dalam negeri, terutama terkait pasokan bahan baku.
Ketidakpastian yang tinggi membuat pelaku usaha memilih bersikap hati-hati dalam membaca arah pasar, khususnya untuk komoditas nafta yang menjadi tulang punggung produksi.
Baca Juga:
Jelang Mudik Lebaran 2026, Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Produksi Kilang BBM
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengungkapkan, kondisi pasar saat ini masih sangat dinamis dan sulit diprediksi.
Di tengah situasi tersebut, pelaku industri berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan bahan baku agar aktivitas produksi tidak terganggu. Salah satu perhatian utama adalah kelancaran distribusi nafta yang menjadi kebutuhan utama sektor ini.
"Kita berharap pasokan nafta lancar," kata Fajar melansir CNBC Indonesia, Senin (30/3/2026).
Baca Juga:
Wamen ESDM Tinjau Pasokan BBM dan LPG Jelang Idulfitri di Padalarang
Selain itu, pelaku usaha juga mulai melirik alternatif bahan baku lain seperti LPG untuk menjaga keberlangsungan produksi. Namun, upaya ini dinilai perlu dukungan kebijakan agar lebih kompetitif.
Dibanding kebijakan fiskal seperti relaksasi, ketersediaan gas dinilai lebih krusial untuk menjaga efisiensi dan daya saing industri petrokimia di tengah tekanan global.
"Nol persen bea masuk LPG sebagai bahan baku alternatif. Pasokan gas," kata Fajar.