Pada kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah modern melalui PSEL tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru melalui perdagangan karbon.
Daerah yang berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan nantinya dapat memperoleh manfaat ekonomi melalui penjualan kredit karbon yang diakui secara resmi oleh pemerintah.
Baca Juga:
OASA dan SUS Environment Kembangkan PSEL Lampung Raya, MARTABAT Prabowo-Gibran: Transformasi Sampah Jadi Energi Perlu Dipercepat
Sesi seremoni pembuangan sampah pada tempatnya dalam acara 'Waste to Energy' yang dilakukan secara simbolis oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (tengah), Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat (keempat dari kiri), Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir (keempat dari kanan), Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar (kedua dari kanan), Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono (kedua dari kiri), Wali Kota Bogor, Didie Rachim (ketiga dari kiri), serta Wali Kota Medan, Rico Waas (ketiga dari kanan).
"Begitu Bapak mengurangi emisi 20 juta ton, ya mungkin Rp100 miliar - Rp150 miliar bisa dapat karena dijual di pasar karbon. Saya telah berhasil mengurangi emisi sekian juta atau sekian giga ton ekuivalen CO2, maka dijual ke pasar karbon. Nanti, dari KLHK akan dapat Sertifikat Pengurangan Emisi Indonesia dan itu dijual di pasar karbon," tutur Jumhur.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut diharapkan mampu mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang berorientasi pada pengurangan emisi sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru dari sektor lingkungan.
Baca Juga:
Sugeng Suparwoto: PLTSa Tetap Dibutuhkan, Lokasi Pembangunan Harus Utamakan Keselamatan Warga
Sementara itu, Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa proyek PSEL mendapatkan respons yang sangat positif dari berbagai lembaga keuangan dan investor global.
Bahkan, tidak hanya investor asing, sejumlah institusi keuangan nasional di luar kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga menunjukkan ketertarikan untuk ikut berinvestasi.
"Alhamdulillah banyak sekali interest baik dari luar negeri dan juga dari dalam negeri, dan ini malah banyak juga nonbank himbara yang ingin masuk. Artinya kan semua partisipan semangat masuk ke proyek ini. Jadi, proyek ini secara akumulatif memang proyek waste to energy terbesar di dunia, makanya untuk orang yang berpartisipasi investment semua berlomba-lomba untuk hadir ke sini. Jadi, ya alhamdulillah antusiasmenya amat tinggi," ujar Pandu.