PERANG di Timur Tengah, yang dipicu oleh agresi Amerika Serikat-Israel terhadap negeri para Mullah (Iran), berbuntut panjang terhadap pasokan energi secara global. Bahkan bisa meluas pada rantai pasok pangan global.
Mengingat peraian di area Timur Tengah (Selat Hormuz) merupakan jalur strategis untuk rantai pasok energi global, yang berkontribusi terhadap 35 persen pasokan energi global.
Baca Juga:
Pemerintah Perkuat Koordinasi, Pastikan Kapal RI Aman Melintasi Selat Hormuz
Selain itu, negara negara di Timur Tengah adalah pemasok BBM, crude oil dan bahkan gas elpiji ke banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.
Semenjak perang di Timur Tengah, yang sudah berjalan nyaris satu bulan, pasokan energi global terguncang! Harga minyak mentah melambung hingga di atas 100 dolar Amerika per barel, dan bahkan pasokan BBM pun nyaris terputus. Dua kapal tanker milik Pertamina pun belum mampu menembus blokade Selat Hormuz oleh Iran.
Lebih dari 100 negara pasokan BBM-nya terguncang, dan oleh sebab itu hampir semua negara melakukan respon cepat terhadap fenomena krisis energi di negaranya. Terbukti lebih dari 85 negara telah menaikkan harga BBM di negaranya, kisaran 20-30 persen.
Baca Juga:
Konsumsi BBM Pertamax Series Naik Signifikan Saat Lebaran
Banyak negara juga telah melakukan berbagai pembatasan aktivitas, mulai dari WFH/WFA, hari kerja menjadi 4 hari, dll. Bahkan di Korea Selatan mandi dengan air hangat pun dihimbau untuk dibatasi.
Di Kuba, mereka sudah mulai menggunakan sepeda onthel untuk pergi ke kantor. Dan Philipina secara resmi menyatakan krisis energi di negerinya, mengingat 85 persen konsumsi BBM-nya berasal dari impor.
Pertanyaannya, bagaimana respon pemerintah untuk memitigasi potensi krisis energi di Indonesia atas dampak perang tersebut?