Beragam koleksi yang ditampilkan mengeksplorasi penggunaan material inovatif, mulai dari rotan hingga biomaterial berbasis limbah kopi sebagai implementasi konsep ekonomi sirkular.
Post-event juga menghadirkan sesi diskusi bertajuk “Beyond Making” bersama perwakilan Indonesia Design District (IDD), Domisilium Studio, Mergrath Design, Zulyo Kumara Studio, dan Studio Banda. Diskusi tersebut membahas filosofi desain furnitur Indonesia sekaligus proses kreatif di balik karya yang dipamerkan pada Salone del Mobile 2026 dan Salone Satellite 2026.
Baca Juga:
Mendag Resmikan IPBA, Perkuat Sinergi Ekonomi Indonesia-Filipina di Usia 75 Tahun Hubungan Diplomatik
Sebanyak 35 pelaku industri kreatif hadir dalam kegiatan tersebut. Para narasumber memaparkan kesiapan ekosistem furnitur Indonesia dalam memenuhi standar desain dan produksi pasar internasional.
Manajer Komunikasi Pemasaran IDD, Adityo Ramadhan, menilai sesi diskusi tersebut menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kekuatan filosofi furnitur Indonesia yang memadukan unsur kemewahan dengan kearifan lokal.
“Acara ini merupakan ruang representatif untuk mempromosikan jenama lokal di Italia sekaligus memperkuat kolaborasi kreatif lintas sektor antara produsen dan desainer kedua negara,” ujar Adityo.
Baca Juga:
ASEAN Harus Tetap Terbuka dan Tangguh Hadapi Ketidakpastian Global
Apresiasi juga datang dari Santi Alaysius dari Domisilium Studio. Ia menilai kegiatan post-event menjadi wadah strategis untuk memperkuat jejaring antarpelaku industri kreatif setelah pelaksanaan Salone del Mobile 2026.
“Selain itu, sesi diskusi dalam kegiatan ini berlangsung komunikatif dan membuka peluang kolaborasi baru,” kata Santi.
Respons positif turut disampaikan mitra lokal asal Italia, Gregorio Magazzi dari Bonacina Italia. Ia mengaku terkesan dengan kualitas material produk Indonesia dan melihat potensi besar kolaborasi antara pelaku industri kreatif Indonesia dan Italia.