Ketua Umum Partai Gerindra ini meyakini konversi motor listrik membuat negara hemat dan tidak bergantung pada pasokan BBM. Adapun rencana konversi kendaraan bensin ke listrik ini akan dikenakan ke seluruh jenis kendaraan mulai dari motor, mobil, hingga truk. Meskipun nantinya bensin tetap ada dan bisa dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke atas, karena harga yang mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.
"Semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari, silakan lo pakai bensin lo bayar aja harga dunia, mau US$ 200, yang lain kita sudah bikin simulasi ternyata naik motor, kalau dia pakai listrik pengeluarannya tinggal 20%, seperlima, jadi ini, this is our game changer," paparnya.
Baca Juga:
GI 150 kV Pabuaran Perkuat Industri Subang, ALPERKLINAS: PLN Hadirkan Energi untuk Masa Depan Ekonomi Daerah
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan salah satu rencana percepatan konversi motor konvensional itu dengan cara pemberian program subsidi seperti sebelumnya.
Hal ini diungkapkan Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, terkait percepatan implementasi energi bersih seperti pembangunan PLTS 100 Giga Watt dan konversi 120 juta motor ke mesin baterai listrik, Kamis (5/3/2026).
"Semacam begitu (subsidi), tapi nanti kita cari formulasi yang baik," kata Bahlil, saat ditanya program percepatan yang akan diberikan pemerintah.
Baca Juga:
PLN UID S2JB Perkuat Ekosistem EV, Transaksi SPKLU Melaju Pesat Sejak 2020
Pemerintah pernah memberikan subsidi untuk konversi kendaraan motor listrik sebanyak 200 ribu unit yang berakhir tahun 2024 lalu. Namun, subsidi senilai Rp 7-10 juta itu tidak lagi dilanjutkan pemerintah.
Menurut Bahlil, nantinya nilai program subsidi ini lebih murah dari sebelumnya. Dia memberikan estimasi subsidi yang diberikan senilai Rp 5-6 juta per unit, karena teknologi yang sudah jauh lebih murah.
[Redaktur: Alpredo Gultom]