Kesepakatan ini mengakhiri upaya Rusia membangun pengaruh di pesisir Pasifik Amerika Utara sekaligus memperkuat posisi AS sebagai kekuatan baru di kawasan Asia-Pasifik.
Rusia yang telah menjelajahi Alaska sejak abad ke-18 menghadapi keterbatasan populasi, masalah keuangan, serta dampak kekalahan dalam Perang Crimea, sehingga memilih melepas wilayah tersebut.
Baca Juga:
Inggris Murka Usai Trump Remehkan Peran NATO di Afghanistan
Demi menghambat pengaruh Inggris, Rusia menawarkan Alaska kepada AS. Menteri Luar Negeri William Seward menyepakati pembelian itu dengan nilai USD7,2 juta.
Meski sempat dicemooh sebagai “Kebodohan Seward”, nilai strategis Alaska terbukti penting, terutama saat Perang Dunia II, sebelum akhirnya resmi menjadi negara bagian AS pada 3 Januari 1959.
Wilayah lain adalah Florida, yang diperoleh dari Spanyol. Setelah Inggris mengembalikan Florida Timur dan Barat kepada Spanyol pada 1783, arus imigran Amerika ke Florida Barat meningkat.
Baca Juga:
Greenland Jadi Sorotan Dunia, Putin Tuduh Denmark Bertindak Kolonial
Pemberontakan pada 1810 dimanfaatkan Presiden James Madison untuk mengklaim wilayah tersebut.
Ketegangan memuncak ketika Jenderal Andrew Jackson merebut benteng Spanyol pada 1818.
Melalui Perjanjian Onís–Adams tahun 1819, Spanyol menyerahkan Florida Timur kepada AS dan mengakhiri klaimnya atas Florida Barat, sekaligus menetapkan batas wilayah Pembelian Louisiana.