WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dominasi udara Amerika Serikat mulai dipertanyakan, konflik Timur Tengah yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran memasuki pekan keempat dengan kerugian militer yang mengejutkan pada Jumat (27/3/2026).
Konflik yang pecah sejak Jumat (28/2/2026) ini tidak hanya memperpanjang eskalasi perang, tetapi juga mengguncang asumsi lama tentang superioritas kekuatan udara di medan tempur modern.
Baca Juga:
Wali Kota di Los Angeles Mengaku Jadi Agen China, Terancam 10 Tahun Penjara
Sejak awal perang, militer AS tercatat kehilangan sedikitnya 16 pesawat, baik jet tempur maupun drone, dalam berbagai insiden tempur dan kecelakaan operasional.
Kerugian tersebut diperparah dengan rusaknya sejumlah aset darat, termasuk sistem radar pertahanan canggih yang menjadi tulang punggung deteksi dan perlindungan dari serangan rudal.
Jumlah kehilangan ini dinilai signifikan karena melampaui catatan kerugian AS dalam operasi militer besar sebelumnya seperti di Libya dan Irak.
Baca Juga:
Iran Ancam Beri ‘Pelajaran Tak Terlupakan’ usai Trump Tolak Proposal Perdamaian
Tingginya angka kerugian ini diduga berkaitan dengan intensitas serangan yang jauh lebih besar dibandingkan kampanye militer sebelumnya.
Salah satu insiden yang menyita perhatian adalah lumpuhnya jet tempur siluman F-35 Lightning II saat menjalankan misi di wilayah Iran.
Pada Rabu (19/3/2026), sebuah F-35 milik Angkatan Udara AS terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara di Timur Tengah setelah terkena tembakan yang diduga berasal dari Iran.