WAHANANEWS.CO, Jakarta - Operasi militer besar-besaran diluncurkan Amerika Serikat di wilayah Iran demi menyelamatkan seorang pilot jet tempur yang jatuh, memicu klaim kemenangan dari Washington dan bantahan keras dari Teheran.
Insiden bermula saat angkatan bersenjata Iran menembak jatuh sedikitnya dua jet tempur, tiga drone, dan dua rudal jelajah milik Amerika Serikat pada Jumat (3/4/2026) yang kemudian disebut sebagai pukulan telak bagi kekuatan udara AS dan sekutunya.
Baca Juga:
Dua Jet Tempur AS Dijatuhkan Iran, Teknologi Senyap EO/IR Bongkar Celah Pertahanan Modern
Pada Minggu (5/4/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pasukannya berhasil mengevakuasi seorang pilot jet tempur yang sebelumnya hilang dalam insiden tersebut.
"Militer kami telah melakukan salah satu Operasi Pencarian dan Penyelamatan paling berani dalam sejarah AS, untuk salah satu perwira awak pesawat kita yang luar biasa, yang juga merupakan seorang Kolonel yang sangat dihormati, dan yang dengan senang hati saya beritahukan kepada Anda bahwa sekarang dia selamat dan sehat," kata Donald Trump.
Ia menjelaskan bahwa operasi tersebut melibatkan pengerahan besar-besaran kekuatan militer udara dan pasukan elite untuk menjangkau lokasi jatuhnya pesawat di wilayah pegunungan Iran.
Baca Juga:
Seruan Macron Menggema, Dunia Diminta Tak Bergantung pada AS
Puluhan pesawat tempur, helikopter, serta personel dari badan intelijen dilibatkan dalam misi berisiko tinggi tersebut.
"Kami telah menyelamatkan awak F15 yang mengalami luka serius dan sangat berani, di dalam pegunungan Iran," ujar Donald Trump.
Dalam pelaksanaannya, militer AS disebut mengerahkan kekuatan tembakan untuk menghalau pasukan Iran yang berusaha mendekati lokasi pilot yang terdampar.