WAHANANEWS.CO - Militer Israel menewaskan empat orang yang diklaim sebagai militan setelah mereka keluar dari terowongan bawah tanah di wilayah Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, dengan Tel Aviv menyebut insiden itu sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata.
Insiden tersebut terjadi ketika pasukan Israel mengklaim mendapat serangan dari kelompok bersenjata yang muncul dari jaringan terowongan di Rafah, Senin (9/2/2026), di tengah berlakunya fase kedua gencatan senjata Gaza.
Baca Juga:
Serangan Israel Guncang Lebanon Selatan, Bombardir Perbatasan 2 Negara Arab
Militer Israel menyatakan para militan tersebut menyerang lebih dulu setelah keluar dari terowongan, sehingga pasukannya melakukan tindakan balasan.
“Beberapa saat yang lalu, empat teroris bersenjata keluar dari terowongan bawah tanah dan menembak ke arah tentara-tentara di area Rafah di Jalur Gaza bagian selatan, setelah melakukan identifikasi, pasukan menewaskan para teroris itu,” sebut militer Israel dalam pernyataannya, Senin (9/2/2026).
Militer Israel menegaskan tidak ada tentaranya yang terluka dalam insiden tersebut dan menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata dengan Hamas.
Baca Juga:
Bukan Operasi Militer, Tentara Israel Malah Nyolong 250 Kambing dari Suriah
“Tentara Israel terus beroperasi di area tersebut untuk mencari dan menewaskan semua teroris di dalam jalur terowongan bawah tanah,” kata militer Israel.
Meski gencatan senjata Gaza yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki fase kedua sejak bulan lalu, kekerasan masih terus terjadi dengan Israel dan Hamas saling menuding adanya pelanggaran kesepakatan.
Fase kedua gencatan senjata mengatur demiliterisasi Jalur Gaza, termasuk perlucutan senjata Hamas, bersamaan dengan penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Palestina tersebut.
Hamas berulang kali menegaskan perlucutan senjata merupakan garis merah, meskipun kelompok itu mengisyaratkan kemungkinan menyerahkan persenjataan kepada otoritas pemerintahan Palestina di masa depan.
Pejabat Israel mengklaim Hamas saat ini masih memiliki sekitar 20.000 petempur dan sekitar 60.000 senapan Kalashnikov yang tersebar di Jalur Gaza.
Sementara itu, sebuah komite teknokrat Palestina telah dibentuk untuk mengambil alih pemerintahan sehari-hari di Jalur Gaza, namun hingga kini belum jelas apakah dan bagaimana komite tersebut akan menangani isu demiliterisasi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]