Ia menyebut skala kerusakan itu belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota pendudukan.
“Pemboman Iran dalam waktu hanya satu hari menyebabkan kerusakan masif yang belum pernah kami lihat sebelumnya,” ucapnya.
Baca Juga:
Trump Tak Puas Proposal Damai Iran, Sebut AS Punya Dua Opsi Akhiri Perang
Selain kehancuran fisik, Israel juga mengalami tekanan ekonomi besar. Perkiraan awal menyebutkan kerugian langsung mencapai USD 12 miliar dan bisa membengkak hingga USD 20 miliar.
Hal ini mendorong lonjakan harga rumah dan memperparah krisis perumahan di wilayah yang terdampak.
Di balik serangan besar ini, latar belakangnya adalah agresi militer Israel terhadap Iran pada 13 Juni yang lalu, didukung oleh Amerika Serikat.
Baca Juga:
Mossad Terlalu Optimis, Realita Perang Iran Tak Sesuai Harapan
Serangan tersebut menewaskan sejumlah komandan militer, ilmuwan, serta warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak.
Iran pun tak tinggal diam. Melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mereka membalas dengan Operasi True Promise III, kampanye militer yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menghantam infrastruktur penting Israel.
Dalam 12 hari pertempuran, Iran meluncurkan 22 gelombang serangan presisi. Hasilnya: Israel terpaksa mengakhiri agresinya secara sepihak pada 24 Juni.