Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negosiasi untuk mengakhiri perang sedang berlangsung.
Namun, klaim tersebut sebelumnya telah dibantah oleh pihak Teheran.
Baca Juga:
Jebol! Dua Rudal Iran Tembus Pertahanan Israel, Sistem Canggih Dipertanyakan
Sejak konflik pecah pada Jumat (28/2/2026), lalu lintas kapal di Selat Hormuz merosot drastis.
Data perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya lima kapal yang melintas per hari, jauh dari rata-rata sekitar 120 kapal sebelum konflik.
“Setiap kapal yang mencoba melintas berisiko diserang,” sempat diperingatkan Iran pada awal konflik sebelum kemudian melunak dengan membuka jalur bagi pihak yang tidak dianggap musuh.
Baca Juga:
AS Tiba-tiba Ajukan 15 Poin ke Iran, Ada Tawaran Besar di Balik Gencatan Senjata
Penurunan aktivitas pelayaran ini turut memicu lonjakan harga energi global.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak bisa menembus 150 hingga 200 dollar AS per barel jika gangguan terus berlanjut.
Setelah sempat bertahan di atas 100 dollar AS per barel sepanjang Maret, harga minyak Brent justru turun lebih dari 9 persen pada Rabu setelah muncul laporan adanya upaya diplomasi.