WAHANANEWS.CO, Jakarta - Iran bersiap memainkan kartu terbesarnya di Selat Hormuz dengan mengusulkan larangan bagi kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melintasi jalur strategis tersebut sebagai bagian dari draf kesepakatan pembukaan kembali selat.
Rencana itu menjadi bagian dari manuver Teheran untuk mengurangi dominasi militer AS yang telah berlangsung selama puluhan tahun di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga:
Trump Murka! Netanyahu Bongkar Isu Nuklir Iran ke Publik, Hubungan AS-Israel Memanas
Kelompok garis keras di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melihat momentum perundingan sebagai kesempatan untuk memperkuat kendali Iran atas Selat Hormuz.
Teheran secara terbuka menyampaikan opsi tuntutan tersebut dalam perundingan dengan Kesultanan Oman yang bertindak sebagai mediator utama.
Namun, pejabat AS menegaskan Washington tidak akan menerima pembatasan maupun pungutan terhadap armada kapalnya yang melintasi jalur tersebut.
Baca Juga:
Dua Terpidana Kasus Demonstrasi Antipemerintah Dieksekusi Mati di Iran
"Hasil fundamentalnya adalah kendali de facto Iran yang signifikan atas selat tersebut," kata mantan perwira intelijen senior AS dari Atlantic Council Jonathan Panikoff, dikutip dari The Wall Street Journal, Jumat (7/8/2026).
Penilaian tersebut muncul ketika kedua pihak masih memiliki perbedaan besar mengenai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum Selat Hormuz dapat kembali dibuka secara penuh.
Washington mengeklaim hanya akan menyetujui kesepakatan pembukaan Selat Hormuz apabila Iran tidak mengenakan biaya dan memberikan jaminan kebebasan navigasi.