Tidak memberikan penjelasan detail soal kegagalan tersebut, Netanyahu memilih fokus pada imbauan keselamatan kepada masyarakat.
Tidak berkaitan satu sama lain insiden di Arad dan Dimona, demikian ditegaskan juru bicara militer Brigjen Effie Defrin.
Baca Juga:
Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp573 Juta, FIFA Jadi Sorotan
Selama ini, Iron Dome dikenal luas sebagai sistem pertahanan rudal utama Israel, meski perannya lebih difokuskan untuk menghadapi ancaman roket jarak pendek seperti dari Hamas.
Untuk menghadapi rudal balistik, Israel mengandalkan Arrow 3 yang dikembangkan bersama Amerika Serikat dan mampu mencegat target di luar atmosfer bumi.
Selain itu, sistem THAAD milik AS juga turut ditempatkan guna memperkuat lapisan pertahanan udara Israel.
Baca Juga:
Fantastis! Jasa Joki UTBK di Surabaya Dipatok Hingga Ratusan Juta Rupiah
Kini Israel berupaya meningkatkan efisiensi dengan memperluas penggunaan sistem pencegat yang lebih murah dan mudah diproduksi guna menjaga keberlanjutan pertahanan.
“Ini adalah upaya untuk memperluas kemampuan sistem pertahanan udara tingkat bawah seperti Iron Dome dan David's Sling,” kata Jenderal Kochav.
Sorotan juga tertuju pada Arrow 3 karena biaya tinggi dan waktu produksi yang lama, sehingga penggunaannya harus diperhitungkan secara cermat.