“Saya tidak merasa ada yang berbeda. Kami melakukan aktivitas yang sama, pengeboman presisi yang sama,” kata Farooq dengan suara lembut dalam wawancara dengan Dawn, menggambarkan bagaimana ia diperlakukan setara dengan rekan-rekan prianya di Pangkalan Udara Mushaf.
Semakin banyak perempuan Pakistan yang bergabung ke dalam dinas militer, didorong oleh perubahan sosial dan persepsi terhadap perempuan.
Baca Juga:
Pemalsuan Paspor, Imigrasi Jakpus Tangkap WN Pakistan
Menurut Farooq, kondisi keamanan regional memaksa semua elemen masyarakat untuk ikut berkontribusi.
“Karena terorisme dan lokasi geografis kami, sangat penting bagi kami untuk tetap waspada,” ujarnya, menyinggung militansi Taliban dan kekerasan sektarian yang kian mengkhawatirkan, apalagi dengan situasi Afghanistan dan hubungan yang renggang dengan India.
2. Ditentang Ibunya, Namun Tak Menyerah
Baca Juga:
Bertemu Importir Produk Indonesia di Karachi, Wamendag Roro Bahas Jalur Pengiriman Produk Indonesia ke Pakistan
Tujuh tahun lalu, Farooq berselisih paham dengan ibunya, seorang janda yang tidak berpendidikan, ketika menyatakan keinginannya untuk menjadi pilot jet tempur.
“Di masyarakat kita, kebanyakan gadis bahkan tidak berpikir untuk melakukan hal-hal seperti menerbangkan pesawat,” ujarnya.
Tekanan budaya dan harapan keluarga membuat banyak perempuan enggan menembus dunia angkatan bersenjata yang maskulin.