Ketika perekonomian dunia mulai bergerak kembali setelah pandemi, permintaan barang-barang China melonjak dan pabrik-pabrik yang membuatnya membutuhkan lebih banyak daya.
Aturan yang diberlakukan China untuk berusaha netral karbon pada 2060 membuat produksi batu bara melambat, padahal mereka masih membutuhkannya untuk memasok lebih dari separuh kebutuhan listrik negara.
Baca Juga:
Imigrasi Meulaboh Deportasi Empat Warga Negara China Akibat Pelanggaran Izin Tinggal di Aceh
Lalu karena permintaan listrik meningkat, harga batu bara pun ikut melonjak.
Masalahnya, dengan ketatnya Pemerintah China mengendalikan harga listrik, pembangkit listrik tenaga batu bara tidak mau beroperasi dengan kerugian, dan banyak yang mengurangi output-nya secara drastis.
Baca Juga:
China Suspend 19 Perusahaan Sarang Burung Walet RI, Ini Sumber Masalahnya!
Siapa yang Terdampak Krisis Energi di China?
Rumah-rumah dan pabrik industri jelas terpengaruh oleh krisis listrik China, karena dayanya dibatasi di beberapa provinsi dan wilayah.
Surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah mengatakan, terjadi pemadaman listrik di empat provinsi yaitu Guangdong di selatan, kemudian Heilongjiang, Jilin, dan Liaoning di timur laut.