WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lebih dari 40 hari perang melawan Iran berlangsung, harapan sebagian elite keamanan Israel untuk menjatuhkan rezim Teheran justru berbalik menjadi keraguan besar.
Penilaian yang sebelumnya diyakini kuat di kalangan intelijen Israel kini dianggap terlalu optimistis dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
Baca Juga:
Italia Bekukan Perjanjian Pertahanan dengan Israel Usai Insiden Lebanon
Sumber internal Israel menyebut calon kepala badan intelijen luar negeri Mossad, Roman Gofman, sempat meyakini bahwa konflik ini dapat mempercepat runtuhnya pemerintahan Iran.
Pandangan tersebut disampaikan Gofman kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam berbagai diskusi perencanaan sebelum perang.
Gofman yang saat ini menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu dijadwalkan mulai memimpin Mossad pada Juni mendatang untuk masa jabatan lima tahun, menggantikan David Barnea.
Baca Juga:
Kerusakan Serangan AS-Israel ke Iran Ditaksir Capai 270 Miliar Dolar AS
Barnea, yang telah menjabat sejak 2021, diketahui memiliki pandangan serupa bahwa konflik dapat memicu perubahan rezim di Iran.
Menurut sumber keamanan, Barnea memainkan peran penting dalam memberikan masukan menjelang serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada Jumat (28/2/2026) yang menjadi awal konflik.
Ia bahkan disebut pernah mengusulkan strategi pembunuhan terhadap pemimpin Iran yang diikuti operasi intelijen beruntun untuk memicu gelombang protes hingga menggulingkan rezim.