"Posisi Mossad adalah bahwa perubahan rezim merupakan kemungkinan yang besar dan mereka dapat mewujudkannya," ujar salah satu sumber keamanan Israel, Rabu (15/4/2026).
Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh militer Israel yang cenderung lebih berhati-hati dalam menilai dampak konflik.
Baca Juga:
3 Bulan Berperang, Netanyahu di Ujung Tanduk Israel Takut AS dan Iran Berdamai
Pasukan pertahanan Israel (IDF) disebut lebih fokus pada upaya melemahkan rezim dan menciptakan kondisi bagi pemberontakan publik, bukan menjamin kejatuhan cepat.
"Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati," kata sumber tersebut.
Meski gelombang awal serangan dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta menghancurkan sejumlah infrastruktur strategis, perubahan besar dalam struktur kekuasaan belum terjadi.
Baca Juga:
Intelijen Blak-blakan Ungkap Israel-AS Hendak Gulingkan Republik Isalam Iran
Pemimpin tertinggi baru yang merupakan putra Khamenei justru dinilai lebih keras dan memiliki kedekatan kuat dengan Garda Revolusi Iran.
Dalam pernyataan publik pertamanya sejak perang berlangsung, Barnea mengakui bahwa misi Israel di Iran masih jauh dari selesai.
"Kami tentu saja merencanakan agar kampanye kami berlanjut dan terwujud bahkan pada periode setelah serangan di Teheran," ujarnya.