WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman baru kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut pengeluaran negaranya untuk NATO akan diperiksa secara serius di tengah kekecewaan atas sikap aliansi tersebut dalam konflik Iran.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews pada Senin (13/4/2026).
Baca Juga:
Ancaman Trump Keluar NATO Dibalas Tegas Inggris: NATO Tak Tergantikan bagi Amerika
Ia menilai NATO tidak memberikan dukungan kepada Amerika Serikat maupun Israel saat perang melawan Iran berlangsung.
"Mereka tidak ada di sana untuk kita," katanya.
Trump juga menyindir bahwa sekutu baru ingin menunjukkan dukungan setelah situasi dianggap tidak lagi genting.
Baca Juga:
Jelang Negosiasi dengan AS, Iran Pertegas Sikap soal Selat Hormuz dan Kompensasi Konflik
"Sekarang mereka ingin datang, tetapi tidak ada lagi ancaman nyata," ujarnya.
Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengaku tengah mempertimbangkan secara serius untuk menarik Amerika Serikat keluar dari NATO.
Ia menyebut penolakan negara-negara sekutu untuk mendukung perang Amerika-Israel menjadi alasan utama munculnya wacana tersebut.
Trump kembali mengungkapkan kekecewaannya terhadap aliansi pertahanan itu yang dinilai gagal memenuhi harapan Washington.
Selain itu, ia mempertanyakan nilai strategis keanggotaan Amerika Serikat di NATO.
"Anda tahu, kita menghabiskan triliunan dolar untuk NATO untuk membantu mereka benar-benar melindungi diri dari Rusia, jika Anda memikirkannya, kita melindungi diri dari Rusia. Dan saya sudah lama berpikir itu agak konyol, tetapi kita menghabiskan triliunan dolar untuk melakukannya. Dan saya pikir itu akan berada di bawah pengawasan yang sangat serius," katanya.
Dalam wawancara terpisah, Trump bahkan menyatakan tengah “sangat mempertimbangkan” untuk menarik AS dari aliansi tersebut.
Ia menyebut NATO sebagai organisasi yang lemah dan tidak efektif.
"Oh ya, saya akan mengatakan (itu) sudah tidak perlu dipertimbangkan lagi. Saya tidak pernah terpengaruh oleh NATO. Saya selalu tahu mereka adalah macan kertas, dan Putin juga tahu itu," katanya.
Pernyataan tersebut disebut sebagai salah satu ancaman paling langsung terhadap keberlangsungan pakta pertahanan transatlantik yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Di sisi lain, mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS Joe Kent turut memberikan pandangannya terkait wacana keluarnya AS dari NATO.
Ia menilai langkah tersebut bukan untuk menghindari keterlibatan asing, melainkan berpotensi mengubah posisi AS dalam konflik di Timur Tengah.
"Sayangnya, meninggalkan NATO bukan untuk menghindari keterlibatan asing, kita akan meninggalkan NATO agar kita dapat berpihak pada Israel ketika Turki dan Israel akhirnya berkonflik di Suriah," tulis Kent.
Ia juga menyoroti kebijakan luar negeri AS yang dinilai inkonsisten dalam konflik di kawasan tersebut.
"Ini setelah kita membantu menggulingkan pemerintahan sekuler Suriah dan menempatkan mantan pemimpin Al-Qaeda/ISIS sebagai presiden. Sudah saatnya berhenti berperan sebagai pembakar dan pemadam kebakaran di Timur Tengah, itu tidak sepadan," ujarnya.
Pernyataan terbaru Trump dinilai semakin menambah tekanan terhadap NATO, terutama setelah ia mengaitkan dukungan Amerika terhadap aliansi tersebut dengan sikapnya dalam konflik Iran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]