WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat mulai kelimpungan menahan lonjakan harga minyak dunia di tengah perang dengan Iran, hingga mengambil langkah tak terduga dengan mencabut sementara sanksi terhadap jutaan barel minyak Teheran.
Langkah ini dilakukan setelah harga minyak global melonjak tajam hingga lebih dari 100 dolar AS per barel atau naik sekitar 50 persen, tertinggi sejak 2022.
Baca Juga:
Mojtaba Khamenei: Iran Jalani 3 Perang Sekaligus, AS-Israel Mati Kutu
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pencabutan sanksi akan membuka pasokan besar ke pasar global.
“Dengan membuka sementara pasokan yang ada ini untuk dunia, Amerika Serikat akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global, memperluas jumlah energi di seluruh dunia dan membantu mengurangi tekanan sementara pada pasokan yang disebabkan oleh Iran,” ujarnya.
Kebijakan tersebut mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih terhadap dampak lonjakan harga energi terhadap ekonomi domestik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Baca Juga:
Perang Amerika Serikat-Israel Vs Iran dan Dedikotomi Islam
Di sisi lain, langkah itu memicu kekhawatiran karena berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
“Pada intinya, kita akan menggunakan barel minyak Iran untuk melawan Teheran guna menjaga harga tetap rendah saat kita melanjutkan Operasi Epic Fury,” kata Bessent.
Ini menjadi ketiga kalinya dalam kurun dua pekan terakhir Amerika Serikat melonggarkan sanksi energi terhadap negara yang tengah berkonflik dengannya.