Pembukaan kembali Selat Hormuz juga menjadi salah satu agenda pembahasan para pemimpin negara-negara G7.
Inisiatif tersebut dipandang sebagai bagian penting dari implementasi kesepakatan yang telah dicapai antara Washington dan Teheran.
Baca Juga:
Insiden di Laut Norwegia, Inggris Sebut Aksi Pesawat Rusia Tidak Aman dan Tidak Profesional
Tujuan utamanya adalah memastikan jalur perdagangan internasional kembali beroperasi secara normal sehingga tidak mengganggu distribusi energi dan aktivitas ekonomi global.
Melansir Anadolu pada Kamis, 18 Juni 2026, koalisi maritim yang tengah disiapkan diperkirakan akan melibatkan sekitar 20 negara.
Sebagai bagian dari persiapan tersebut, Prancis telah menempatkan kapal induk Charles de Gaulle di kawasan sejak pertengahan Mei.
Baca Juga:
AS Bakar Rp1.245 Triliun untuk Senjata Nuklir, Angkanya Kalahkan Gabungan 8 Negara
Sementara itu, Inggris mengirim kapal perusak HMS Dragon untuk memperkuat pengamanan wilayah.
Italia turut berkontribusi dengan menyiagakan kapal penjinak ranjau, sedangkan Jerman masih mempertimbangkan bentuk dukungan yang akan diberikan dalam operasi tersebut.
Sejumlah pejabat Eropa menyebutkan bahwa misi pengamanan ini nantinya berpotensi mengawal sekitar 2.000 kapal tanker minyak dan kapal kargo yang saat ini menunggu kesempatan melintasi Selat Hormuz.