WAHANANEWS.CO, Jakarta - NATO menyatakan kesiapannya untuk mendukung upaya internasional yang dipimpin negara-negara Eropa dalam membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz apabila diminta.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya koordinasi internasional menyusul tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga:
Eropa Mulai Tak Percaya AS, Publik Eropa Dorong Pertahanan Mandiri
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa keterlibatan aliansi pertahanan tersebut akan bergantung pada permintaan resmi dari negara-negara yang memimpin inisiatif pembukaan jalur pelayaran strategis itu.
Menurutnya, NATO tetap berada dalam posisi siap memberikan bantuan apabila diperlukan, namun tidak akan terlibat secara langsung jika operasi dapat dijalankan secara efektif tanpa dukungan aliansi.
Saat ini, Inggris dan Prancis diketahui menjadi motor utama dalam penyusunan misi angkatan laut multinasional yang bertujuan menjamin kebebasan navigasi dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga:
Trump Kesal ke Jerman, Pasukan AS Terancam Dipangkas
Persiapan operasi tersebut telah berlangsung selama sekitar dua bulan terakhir dengan sejumlah negara mulai mengerahkan aset militernya ke kawasan Timur Tengah.
Rencana operasi itu mencakup berbagai langkah pengamanan, mulai dari penjinakan ranjau laut, pengawasan melalui sistem radar, hingga pengamanan jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan dan distribusi energi dunia.
Rutte menjelaskan bahwa meskipun Selat Hormuz berada di luar wilayah tanggung jawab langsung NATO, koordinasi utama dalam pelaksanaan misi tetap dipimpin oleh Inggris dan Prancis.