WAHANANEWS.CO, Jakarta - Korea Selatan bergerak cepat menghadapi guncangan pasokan energi global dengan menyerukan penghematan nasional setelah perang Iran mengganggu distribusi minyak dan gas dunia, Selasa (24/3/2026).
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendorong kampanye efisiensi energi secara luas dengan menargetkan institusi publik sebagai garda terdepan dalam pengurangan konsumsi, termasuk memangkas penggunaan kendaraan dinas.
Baca Juga:
Bikin BGN Murka Usai Joget di Dapur, Pria Ini Ternyata Kelola 7 Titik SPPG
“Institusi publik akan mengurangi penggunaan kendaraan dinas,” demikian ditegaskan Presiden Lee Jae Myung dalam kebijakan yang diumumkan pemerintah, Selasa (24/3/2026).
Pemerintah juga mulai mengatur langkah bertahap untuk sektor swasta dengan pendekatan persuasif sebelum menerapkan pembatasan yang lebih ketat.
“Pembatasan penggunaan kendaraan di sektor swasta masih bersifat sukarela untuk saat ini,” kata Menteri Energi Kim Sung-whan, Selasa (24/3/2026).
Baca Juga:
Rudal Iran Hantam Dekat Tel Aviv, Belasan Warga Terluka
Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi diperketat apabila situasi darurat energi meningkat akibat ketidakpastian global.
Sebagai bagian dari gerakan nasional, pemerintah mengimbau masyarakat menjalankan 12 langkah penghematan energi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengurangi durasi mandi, mengisi daya perangkat elektronik dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan vacuum cleaner pada akhir pekan.
Langkah efisiensi juga menyasar sektor industri dengan meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar untuk menekan konsumsi energi serta menerapkan pengaturan jam kerja bergilir.
Di sisi pasokan, Korea Selatan mengambil langkah strategis dengan mengaktifkan kembali lima reaktor nuklir pada Mei serta melonggarkan pembatasan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk menjaga stabilitas energi.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap impor LNG.
Penyesuaian bauran energi ini diperkirakan mampu menghemat hingga 14.000 ton atau sekitar 20 persen dari konsumsi LNG harian yang mencapai 69.000 ton untuk pembangkit listrik.
Sejumlah korporasi besar turut ambil bagian dalam gerakan ini, termasuk Grup HD Hyundai yang telah menerapkan pembatasan kendaraan secara sukarela, pengurangan penggunaan plastik, serta efisiensi listrik seperti mematikan lampu di berbagai unit usaha.
Pemerintah juga tengah menyiapkan langkah fiskal dengan merancang anggaran tambahan sebesar 25 triliun won atau setara US$ 16,6 miliar untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis energi global.
“Yang terpenting bukan menghemat anggaran pemerintah, melainkan menyalurkan dana secara cepat dan tepat sasaran,” ujar Presiden Lee Jae Myung.
Kementerian Keuangan menyatakan bahwa proposal anggaran tersebut akan diajukan ke parlemen sebelum akhir Maret sebagai bagian dari strategi respons cepat menghadapi dampak krisis energi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]