Selain Spanyol, kritik tajam juga diarahkan kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer Inggris pada gelombang pertama serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
“Inilah yang kita hadapi, ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” sindir Trump mengenai pemimpin Partai Buruh Inggris tersebut.
Baca Juga:
Beda Nada dengan Trump, Pentagon Sebut Serangan ke Khamenei Dilakukan Israel
Penolakan London itu kemudian memicu perang kata-kata antara kedua pemimpin negara yang selama ini dikenal memiliki hubungan cukup dekat.
Dalam pidatonya di parlemen Inggris, Starmer secara terbuka mengecam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya ke wilayah Iran.
“Pemerintah ini tidak percaya pada perubahan rezim dari langit,” tegas Starmer.
Baca Juga:
AS Bersiap Perbesar Serangan ke Iran tapi Stok Rudal Menipis
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah Inggris tidak akan mendukung strategi militer yang bertujuan menggulingkan pemerintahan negara lain melalui serangan udara.
Adalah kewajiban pemerintah Inggris untuk menentukan kebijakan luar negeri berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, termasuk dalam menghadapi konflik di Timur Tengah.
“Adalah tugas saya untuk menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan. Dan saya berdiri teguh pada keputusan itu,” ujar Starmer.