Pidato tersebut bahkan disebut sejumlah pengamat sebagai momen “Love Actually”-nya Starmer, merujuk pada adegan film ketika Perdana Menteri Inggris yang diperankan Hugh Grant berani menentang presiden Amerika yang dianggap menekan negaranya.
Pernyataan keras Trump dinilai banyak pihak sebagai pukulan serius terhadap hubungan Anglo-Amerika yang selama puluhan tahun dikenal sangat erat.
Baca Juga:
Trump Dinilai Banyak Omong, IRGC Ambil Alih Kendali Selat Hormuz
Padahal sebelumnya hubungan antara Starmer dan Trump disebut cukup hangat, bahkan keduanya sempat merencanakan kunjungan kenegaraan dengan jamuan makan malam resmi yang akan digelar oleh Raja Inggris di Kastil Windsor.
Sumber yang mengetahui hubungan kedua pemimpin tersebut menyebut keduanya sebenarnya masih sering berkomunikasi melalui telepon dalam beberapa pekan terakhir.
Namun ketegangan terbaru ini dinilai memperlihatkan adanya retakan serius dalam hubungan diplomatik kedua negara.
Baca Juga:
AS dan Iran Dijadwalkan Kembali Berunding di Islamabad Pekan Depan
Menurut Lew Lukens, mitra senior di Signum Global Advisors sekaligus mantan kuasa usaha Kedutaan Besar AS di London, situasi ini bisa menjadi salah satu titik paling rendah dalam hubungan kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
“Saya pikir hubungan ini berada pada titik terendah dalam sejarah terbaru — mungkin harus kembali ke masa ketika Reagan menginvasi Grenada tanpa memberi tahu Thatcher terlebih dahulu,” ujarnya.
Meski begitu, Lukens meragukan Trump benar-benar akan melakukan pembalasan nyata terhadap Inggris karena kerja sama kedua negara masih sangat penting dalam operasi militer di Timur Tengah.