WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik memanas dan memicu kontroversi baru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta bantuan China untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz yang ditutup Iran.
Baca Juga:
Kontroversi Trump: Iran Disebut Habis Tenaga tapi Masih Dipersilakan ke Piala Dunia
Langkah Trump itu langsung menuai cibiran dari kalangan internal Amerika Serikat, terutama dari Senator Partai Demokrat Chuck Schumer yang menilai usulan tersebut tidak masuk akal dan justru memperlihatkan kebingungan arah kebijakan luar negeri Washington, Rabu (17/3/2026).
“Donald Trump mengatakan dia berharap China akan membantu kita membersihkan Selat Hormuz. Anda bercanda?” sindir Schumer dalam pernyataan di media sosial X.
Ia kemudian menilai kebijakan Trump telah memperkeruh situasi di kawasan Timur Tengah, dengan menyebut bahwa presiden menciptakan kekacauan tanpa memiliki strategi penyelesaian yang jelas di tengah konflik yang terus meningkat.
Baca Juga:
Serangan 30 Bom ke Teheran, Trump Umumkan Khamenei Tewas
Di sisi lain, Trump tetap membela gagasannya dengan menekankan bahwa negara-negara yang selama ini menikmati keuntungan dari jalur perdagangan energi tersebut seharusnya ikut bertanggung jawab menjaga keamanannya.
“Sudah sepantasnya pihak-pihak yang menjadi penerima manfaat dari selat tersebut ikut memastikan tidak terjadi hal buruk di sana. Saya pikir China juga harus membantu,” ujar Trump dalam wawancara.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada akhir Februari.