Situasi semakin kompleks ketika Trump juga memutuskan menunda kunjungan kenegaraannya ke China yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret, dengan alasan ingin tetap berada di Washington selama operasi militer terhadap Iran masih berlangsung.
Keputusan tersebut sekaligus menunda rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, di tengah hubungan kedua negara yang ikut terdampak oleh dinamika konflik kawasan.
Baca Juga:
Kontroversi Trump: Iran Disebut Habis Tenaga tapi Masih Dipersilakan ke Piala Dunia
Sejak serangan militer pada Jumat (28/2/2026), kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami eskalasi signifikan setelah Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran dalam operasi besar yang menewaskan lebih dari 1.300 orang termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke berbagai wilayah strategis termasuk Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Penutupan Selat Hormuz pada awal Maret pun langsung mengguncang pasar energi global karena jalur sempit tersebut merupakan penghubung utama antara Teluk Persia dan Teluk Oman yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima pasokan dunia.
Baca Juga:
Serangan 30 Bom ke Teheran, Trump Umumkan Khamenei Tewas
Dalam kondisi ini, keamanan Selat Hormuz menjadi kunci stabilitas perdagangan global, sekaligus memperlihatkan betapa konflik geopolitik dapat berdampak langsung terhadap ekonomi dunia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.