Perusahaan pialang kapal Poten & Partners mencatat arus lalu lintas memang belum sepenuhnya berhenti namun disrupsi berkembang cepat seiring meningkatnya ketidakpastian keamanan kawasan.
Asosiasi kapal tanker internasional INTERTANKO menyebut Angkatan Laut AS telah memperingatkan risiko pelayaran di Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, hingga Selat Hormuz karena keselamatan kapal tidak dapat dijamin sepenuhnya.
Baca Juga:
Iran Tutup Selat Hormuz , Timur Tengah di Ambang Perang Terbuka
Dampaknya sangat signifikan karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz termasuk ekspor dari produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran serta menjadi jalur keluar utama LNG Qatar.
Konsultan energi Kpler mencatat sedikitnya 14 kapal tanker LNG melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar Selat Hormuz dan jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah sehingga berpotensi mengganggu ekspor LNG Qatar serta memperketat pasokan gas dunia.
Situasi ini menunjukkan rapuhnya rantai pasok energi global ketika konflik bersenjata menyentuh titik strategis distribusi energi internasional.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Diam-diam Pimpin Upaya Cegah Serangan AS ke Iran
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa melainkan simpul ekonomi global yang menentukan stabilitas harga energi serta memengaruhi inflasi di berbagai negara.
Respons cepat juga datang dari perusahaan pelayaran internasional seperti Hapag-Lloyd yang menghentikan sementara seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz.
Maersk menyatakan tengah berkoordinasi dengan mitra keamanan untuk operasional di Laut Merah dan Teluk Aden guna memastikan keselamatan armada mereka.