Sementara itu CMA CGM menginstruksikan kapal-kapalnya untuk mencari perlindungan di lokasi aman sambil menunggu perkembangan situasi.
Langkah-langkah tersebut menegaskan bahwa dampak konflik tidak hanya bersifat militer dan politik tetapi juga langsung menghantam sektor logistik dan energi yang menjadi denyut perekonomian global.
Baca Juga:
Iran Tutup Selat Hormuz , Timur Tengah di Ambang Perang Terbuka
Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan memiliki titik tersempit selebar 33 hingga 39 kilometer dengan kedalaman kurang dari 60 meter serta pulau-pulau strategis seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak yang berada di bawah kendali Iran.
Beberapa pulau lain seperti Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa masih disengketakan dengan Uni Emirat Arab meski sejak 1971 kendali utama selat berada di tangan Iran.
Menurut US Energy Information Administration, Selat Hormuz merupakan titik perdagangan minyak terpenting di dunia karena menjadi koridor vital ekspor minyak negara-negara Teluk ke Asia, Eropa, dan Amerika Utara.
Baca Juga:
Arab Saudi Panik, Diam-diam Pimpin Upaya Cegah Serangan AS ke Iran
Data Kpler mencatat volume kapal tanker yang mengangkut minyak dari selat ini mencapai sekitar 14 juta barel per hari sepanjang 2025 atau setara sepertiga total ekspor minyak mentah global dengan separuhnya dikirim ke China.
Selain minyak mentah, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair dunia terutama dari Qatar juga melintasi jalur ini sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.