WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu kekhawatiran dunia, tetapi pemerintah memastikan virus yang beredar di Indonesia berbeda dan tetap bisa dicegah dengan langkah sederhana di rumah.
Insiden mematikan di MV Hondius membuat banyak pihak khawatir akan muncul ancaman kesehatan baru yang mengingatkan pada pandemi Covid-19.
Baca Juga:
Fakta Geologi Ungkap Sungai Amazon Pernah Mengalir ke Arah Sebaliknya
Meski demikian, World Health Organization menyatakan wabah tersebut masih dapat dikendalikan melalui langkah kesehatan masyarakat yang tepat dan disiplin.
Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat terdapat 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.
Baca Juga:
Siapa Pemilik PT MSE Pelaku Dugaan Jual Beli Solar Subsidi dari Gudang Ilegal ?
Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.
Virus yang ditemukan di MV Hondius disebabkan oleh varian Andes Virus.
Varian tersebut dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), penyakit yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai sekitar 60 persen.
Sementara itu, kasus yang ditemukan di Indonesia disebabkan oleh Seoul Virus.
Varian ini memicu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memiliki tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen.
Faktor risiko utama penularan HFRS di Indonesia adalah kontak langsung dengan tikus atau celurut, termasuk paparan terhadap urine, kotoran, dan air liurnya.
Walaupun tingkat kematiannya lebih rendah dibandingkan HPS, hantavirus di Indonesia tetap perlu diwaspadai.
Untuk mencegah penularan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan sejumlah langkah pencegahan.
Masyarakat diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.
Etika batuk dan bersin juga perlu diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Kontak langsung dengan tikus atau celurut serta ekskresi dan sekresinya harus dihindari.
Kebersihan rumah dan tempat kerja perlu dijaga secara konsisten.
Makanan dan minuman disarankan disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi hewan pengerat.
Seluruh lubang di dalam dan di luar rumah sebaiknya ditutup untuk mencegah tikus masuk.
Jika mengalami gejala seperti demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko penularan hantavirus dapat ditekan secara signifikan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]