WAHANANEWS.CO, Jakarta - Upaya pengendalian konsumsi gula di Indonesia kembali menjadi sorotan.
Produsen minuman kemasan didorong untuk menurunkan kadar gula dalam produk yang mereka hasilkan sebagai langkah preventif terhadap meningkatnya kasus penyakit tidak menular, khususnya diabetes pada anak.
Baca Juga:
YLKI Dorong Label Peringatan pada Minuman Tinggi Gula demi Lindungi Konsumen
Hal ini disampaikan Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, saat melakukan kunjungan ke PT Tirta Alam Segar di Bekasi.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya peran industri dalam mendukung kesehatan masyarakat melalui inovasi produk yang lebih sehat.
Menurutnya, pengurangan kadar gula dalam minuman kemasan dapat menjadi salah satu strategi untuk menekan lonjakan kasus diabetes pada anak.
Baca Juga:
Konsisten Jadi Barometer Produksi Gula Nasional, Jatim Produksi Gula Kristal Putih 1 Juta Ton Per Tahun
Ia mengungkapkan bahwa tren peningkatan prevalensi diabetes pada anak di Indonesia menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, bahkan disebut meningkat hingga 70 kali lipat dalam rentang waktu 2010 hingga 2023.
Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa hubungan antara konsumsi minuman kemasan dan meningkatnya kasus diabetes tidak bisa disimpulkan secara langsung.
Namun, langkah preventif tetap perlu dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian.
"Mungkin saja produksi-produksi industri ini yang mungkin sudah lolos BPOM kadar gulanya dikurangi ini yang kita himbau. Siapa tahu bisa menurunkan prevalensi diabetes," katanya, kepada wartawan, Kamis, 9 April 2026.
Ia berharap langkah ini dapat menjadi bagian dari upaya kolektif dalam menekan angka diabetes pada anak yang terus meningkat.
Selain itu, ia menekankan bahwa diabetes merupakan penyakit yang memiliki dampak luas terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.
"Karena diabetes ini ngefeknya kemana-mana. Misal dia kena diabetes, kemungkinan ginjal, kemungkinan stroke dan ini efeknya kemana-mana," ujarnya.
Di sisi lain, Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0, Andi Rizaldi, menyoroti pentingnya transparansi informasi kandungan gula pada produk minuman kemasan.
Ia menyatakan bahwa ke depan, setiap produk minuman sebaiknya memiliki klasifikasi yang jelas berdasarkan kadar gula yang terkandung di dalamnya.
Dengan adanya pengkategorian tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami kandungan yang mereka konsumsi sehari-hari, sekaligus mengetahui potensi risiko kesehatan yang mungkin timbul dari konsumsi gula berlebih.
"Tugas pemerintah dan produsen memberikan rambu. Pilihannya kembali lagi ke masyarakat, tapi kita tetap harus mengedukasi," ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun kesadaran akan pentingnya pola konsumsi yang sehat.
Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat berjalan beriringan dalam menyediakan informasi yang jelas sekaligus produk yang lebih aman bagi kesehatan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]