Sistem Nutri Level ini akan diterapkan dengan menampilkan kategori nilai gizi, dari level A hingga level D. Produk yang lebih sehat dan rendah kalori akan memperoleh label lebih baik, dibandingkan produk dengan kadar gula atau kalori yang tinggi.
"Ada beberapa coffee chain sudah mau. Di seluruh coffee shop-nya nanti mereka akan pasang label, misalnya matcha coffee D, americano A," terang dia.
Baca Juga:
Hati-hati! Antibiotik Bisa Picu Obesitas dan Gangguan Otak
Menurutnya, pendekatan gaya hidup menjadi strategi yang lebih efektif untuk mengubah perilaku masyarakat dibandingkan sekadar penegakan aturan. Dalam hal ini, pemerintah ingin membangun persepsi bahwa memilih makanan dan minuman sehat merupakan bagian dari tren positif di kalangan anak muda.
“Bahasa anak zaman sekarang itu FOMO, Fear of Missing Out. Jadi, orang akan lihat kalau minum matcha coffee itu tidak cool, tapi kalau minum americano itu A," kata Menkes.
"Zero calorie, everybody lihat sangat cool, semua larinya ke sana," lanjutnya.
Baca Juga:
Krisis Obesitas Global: 60% Orang Dewasa Terancam Kelebiham Bobot Tubuh pada 2050
Meski begitu, pemerintah tetap perlu mengatur konsumsi makanan dan minuman di masyarakat. Tetapi, Menkes ingin pendekatannya lebih mengedepankan edukasi dibandingkan penindakan langsung.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.