Lebih lanjut, Imran mengungkapkan bahwa layanan krisis kesehatan jiwa juga mengalami peningkatan signifikan.
Panggilan ke layanan Sejiwa 119 tercatat naik dari sekitar 400 menjadi 550 panggilan per hari sejak Agustus 2025 hingga awal 2026.
Baca Juga:
Jangan Abaikan, 5 Tanda Stroke Bisa Muncul Sebulan Sebelum Serangan
Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan sekaligus tingginya kebutuhan layanan kesehatan jiwa.
“Kenaikan ini menunjukkan kebutuhan layanan kesehatan jiwa meningkat dan semakin banyak masyarakat berani mencari bantuan. Kita harus memperkuat layanan kesehatan jiwa sekaligus memastikan pesan ruang publik tidak memperburuk kondisi kelompok rentan,” ujar Imran.
Ia menegaskan bahwa para pelaku industri kreatif, termasuk pembuat film, tim pemasaran, serta media, memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan konten yang disampaikan tidak menimbulkan dampak psikologis negatif.
Baca Juga:
Bahaya Mengintai, 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Pernah Diimunisasi
Penyajian isu sensitif, lanjutnya, harus mempertimbangkan kondisi masyarakat, terutama mereka yang sedang mengalami tekanan mental.
“Jika komunikasi publik diarahkan untuk memberi konteks, menumbuhkan harapan, dan mengarahkan orang pada bantuan. Maka media justru bisa menjadi bagian penting dari upaya pencegahan,” ujar Imran.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah tegas dengan menurunkan baliho promosi film tersebut setelah menerima keluhan dari masyarakat.