“Kejadian gangguan ginjal akut pada anak beberapa tahun lalu harus menjadi pengingat bahwa pengawasan obat tidak boleh lengah. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Selain memperkuat pengawasan, Netty menekankan pentingnya meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai keamanan obat dan makanan.
Baca Juga:
Biaya Kesehatan RI Capai Rp 640 Triliun Per Tahun, OJK Ungkap Baru 5% Ditangung Asuransi
Ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam membeli produk kesehatan serta tidak mudah tergiur oleh harga yang terlalu murah atau promosi yang tidak masuk akal.
Sementara itu, BPOM terus mengintensifkan program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok masyarakat lainnya.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya memilih produk yang aman dan telah terdaftar.
Baca Juga:
Kapolda Jambi Terima Audiensi Konsulat Amerika Serikat, Bahas Penguatan Kerja Sama Keamanan dan Pertukaran Informasi
Netty juga menyoroti peran strategis Tim Penggerak PKK yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat hingga tingkat keluarga.
Melalui jaringan yang luas dan aktivitas yang menyentuh komunitas akar rumput, PKK dapat menjadi mitra penting dalam menyebarluaskan informasi mengenai keamanan obat dan makanan.
Melalui pendekatan yang lebih dekat kepada keluarga dan komunitas, edukasi mengenai pentingnya penggunaan produk yang aman diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan efektif.