WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kasus mengenaskan yang menimpa Angga Bagus Perwira (12) menyentak kesadaran publik akan lemahnya pengawasan di lingkungan sekolah, terutama saat jam rawan seperti waktu istirahat.
Ketika seharusnya suasana belajar tetap berada dalam kendali pihak pendidik untuk mencegah terjadinya kekerasan fisik maupun psikologis yang berujung pada tragedi.
Baca Juga:
Warga dan Staf Kelurahan Kuta Gambir Sambut Hangat Lurah Baru
Angga, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Geyer, Grobogan, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal pada Sabtu (11/10/2025) usai diduga mengalami serangkaian tindakan perundungan yang dilakukan teman sekelasnya.
Sebuah fakta yang konon bukan kejadian pertama karena korban disebut sudah berkali-kali mengalami ejekan dan kekerasan fisik sejak awal masuk sekolah.
Selama ini Angga dikenal sebagai anak pendiam dari Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer, namun ketenangannya justru menjadi alasan ia kerap menjadi sasaran perundungan.
Baca Juga:
Koops TNI Papua Tegaskan Respons Cepat Lindungi Warga dari Ancaman Bersenjata
Hal ini sebagaimana diceritakan keluarga yang sejak dua bulan lalu sempat mengadu ke pihak sekolah lantaran tidak kuat melihat cucunya terus menjadi korban tekanan di kelas.
Kepala SMPN 1 Geyer, Sukatno, mengakui, pada 28/08/2025, nenek Angga sempat datang melaporkan soal perlakuan kasar dan ejekan verbal yang terjadi di kelas VII G.
Namun pihak sekolah mengklaim telah melakukan mediasi dan menyatakan masalah selesai karena pelaku kala itu dianggap sudah meminta maaf dan kembali berbaikan dengan Angga.