WAHANANEWS.CO, Jakarta - Awal 2026 menjadi masa yang penuh tekanan bagi pabrikan pesawat turboprop asal Eropa, ATR (Avions de Transport Régional), setelah rentetan insiden penerbangan terjadi hanya dalam hitungan pekan di sejumlah negara.
Dalam tiga pekan pertama Januari, sedikitnya tiga insiden yang melibatkan pesawat buatan ATR tercatat terjadi di Indonesia, Nepal, dan Papua Nugini, dengan kecelakaan paling fatal berlangsung di wilayah Indonesia.
Baca Juga:
Kajari Depok Peroleh Penghargaan Dari Menteri ATR/BPN Indonesia
Insiden terbaru terjadi pada Sabtu (17/1/2026) ketika sebuah pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport dilaporkan jatuh saat hendak mendarat di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.
Pesawat tersebut diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan mengangkut 10 orang yang terdiri atas tujuh awak dan tiga penumpang.
Puing-puing pesawat ditemukan di area pegunungan yang lebat pada ketinggian sekitar 5.000 kaki dengan sebaran reruntuhan di sejumlah titik.
Baca Juga:
Pj. Gubernur Adhy: Bentuk Kepastian Hukum Atas Kepemilikan Tanah
Seluruh penumpang dan awak pesawat dikhawatirkan meninggal dunia, sementara hingga berita ini diturunkan proses pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan oleh tim gabungan.
Menanggapi kejadian di Indonesia, ATR selaku pabrikan pesawat menyatakan telah menerima laporan resmi terkait kecelakaan yang melibatkan ATR 42-500 tersebut.
“Perhatian utama kami saat ini tertuju kepada seluruh pihak yang terdampak oleh insiden ini,” tulis ATR dalam pernyataan resminya.