Perusahaan menegaskan telah mengerahkan tim ahli untuk mendukung proses investigasi yang dipimpin oleh otoritas penerbangan Indonesia serta memberikan bantuan teknis kepada operator.
“Tim ahli kami telah dikerahkan sepenuhnya untuk mendukung investigasi yang dipimpin otoritas Indonesia serta memberikan dukungan teknis kepada operator,” lanjut pernyataan tersebut.
Baca Juga:
Kajari Depok Peroleh Penghargaan Dari Menteri ATR/BPN Indonesia
Sebelumnya, pada Kamis (2/1/2026), sebuah pesawat ATR 72-500 milik Buddha Air dengan registrasi 9N-AMF mengalami runway excursion saat mendarat di Bandara Bhadrapur, Nepal bagian timur.
Pesawat tersebut dilaporkan meluncur sejauh sekitar 165 hingga 300 meter melewati ujung landasan pacu dan berhenti di area berlumpur di dekat aliran air.
Seluruh 55 orang di dalam pesawat yang terdiri atas 51 penumpang dan empat awak berhasil dievakuasi dengan selamat.
Baca Juga:
Pj. Gubernur Adhy: Bentuk Kepastian Hukum Atas Kepemilikan Tanah
Sejumlah laporan menyebutkan hingga tujuh orang mengalami luka ringan, sementara pesawat mengalami kerusakan cukup signifikan meski maskapai sempat menyebut kondisinya minor.
Insiden lain terjadi pada Rabu (15/1/2026) di Papua Nugini ketika sebuah pesawat ATR 42-500 yang dioperasikan Hevilift keluar dari landasan pacu saat mendarat di Bandara Simberi.
Kondisi landasan yang basah akibat hujan disebut menjadi faktor saat pesawat menabrak dinding tanah atau saluran drainase di sekitar bandara.