Melalui kanal keselamatannya, ATR pernah mempublikasikan data bahwa fatal rate ATR-600 series berada di kisaran 0,13 atau setara satu kecelakaan fatal per 10 juta penerbangan.
Angka tersebut diklaim sekitar empat kali lebih rendah dibandingkan rata-rata pasar turboprop global.
Baca Juga:
Kajari Depok Peroleh Penghargaan Dari Menteri ATR/BPN Indonesia
Berdasarkan catatan kecelakaan dan basis data keselamatan penerbangan, pesawat ATR 72 telah terlibat dalam sedikitnya 10 kecelakaan fatal sejak pertama kali beroperasi sekitar 35 tahun lalu.
Salah satu kecelakaan terbesar adalah Yeti Airlines Flight 691 pada Minggu (15/1/2023) di Nepal yang menewaskan seluruh 72 orang di dalam pesawat dekat Pokhara.
Insiden fatal lain tercatat pada American Eagle Flight 4184 pada Oktober 1994 di Amerika Serikat yang menewaskan 68 orang akibat kehilangan kendali di udara dalam kondisi es.
Baca Juga:
Pj. Gubernur Adhy: Bentuk Kepastian Hukum Atas Kepemilikan Tanah
Rangkaian insiden dalam waktu berdekatan ini menempatkan ATR dan para operatornya dalam sorotan publik internasional.
Sejumlah pengamat menilai kasus di Indonesia, Nepal, dan Papua Nugini menunjukkan bahwa keselamatan penerbangan regional tidak hanya ditentukan oleh desain pesawat.
Faktor cuaca, kondisi bandara, kesiapan infrastruktur, serta disiplin prosedur operasional disebut memiliki peran besar dalam menentukan tingkat keselamatan penerbangan.