WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah bergerak cepat merumuskan paket kebijakan ekonomi baru untuk meredam dampak lonjakan harga energi global akibat konflik Timur Tengah yang mulai menekan stabilitas ekonomi nasional, Selasa (31/3/2026).
Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi yang digelar Sabtu (28/3/2026), dengan fokus pada penguatan ketahanan energi dan efisiensi fiskal.
Baca Juga:
Komisi III Soroti Kasus Andrie, Polisi Akui Sudah Limpahkan ke TNI
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan berbagai opsi kebijakan strategis, mulai dari penghematan energi hingga penguatan program biodiesel B50.
“Seluruhnya dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian global yang berdampak pada stabilitas energi, rantai pasok, serta perekonomian nasional,” kata Airlangga, Minggu (29/3/2026).
Selain itu, pemerintah juga mengkaji penerapan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) secara adaptif sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional.
Baca Juga:
Amsal Sitepu Disidang, Ekraf Ingatkan Bahaya Kriminalisasi Karya Kreatif
Langkah efisiensi anggaran juga kembali disiapkan melalui skenario penghematan jilid II untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap terkendali di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Airlangga menegaskan bahwa seluruh kebijakan tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus memastikan pertumbuhan tetap berkelanjutan di tengah tekanan global.
Sementara itu, dari sektor energi, pemerintah juga mempercepat pengembangan program biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.