Selain itu, dua personel lainnya, yakni Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka-luka.
Situasi semakin memburuk ketika sehari setelahnya, PBB kembali mengonfirmasi gugurnya dua prajurit TNI akibat ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon Selatan.
Baca Juga:
Komisi VII DPR Dorong Pengembangan Pariwisata Jawa Timur Berbasis Quality Tourism
Keduanya adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, sementara dua prajurit lain mengalami luka dalam insiden tersebut.
Dengan wafatnya Praka Rico, jumlah total prajurit TNI yang gugur dalam rangkaian insiden di Lebanon menjadi empat orang.
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat lokasi markas UNIFIL yang semestinya menjadi zona aman justru menjadi sasaran serangan di tengah konflik bersenjata.
Baca Juga:
Komisi V DPR RI Tegaskan Dukungan Infrastruktur Labuan Bajo dan Pulau Rinca untuk Pariwisata Berkelanjutan
Menanggapi hal tersebut, Sukamta menegaskan pentingnya perhatian global terhadap meningkatnya risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di lapangan.
"Peristiwa ini harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan, sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi," papar Politisi Fraksi PKS ini.
Ia juga menekankan bahwa perlindungan terhadap personel yang menjalankan mandat perdamaian internasional harus menjadi prioritas utama, tanpa terkecuali, termasuk oleh pihak-pihak yang tengah berkonflik.