WAHANANEWS.CO, Jakarta – Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, menilai gagasan mengenai kedaulatan energi yang disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto dalam Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan memiliki relevansi kuat dengan situasi geopolitik dunia saat ini.
Menurut Syahrul, ketidakpastian global yang masih berlangsung menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian di berbagai sektor strategis.
Baca Juga:
Bramantyo Suwondo Ajak Mahasiswa Perkuat Sentralitas ASEAN Hadapi Tantangan Global
Konflik yang terjadi di sejumlah kawasan, termasuk perang Iran-Amerika-Israel serta konflik Rusia-Ukraina, menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik internasional masih menghadapi berbagai tantangan.
Kondisi tersebut, kata Syahrul, perlu menjadi perhatian serius bagi Indonesia.
Menurutnya, negara harus mampu mengoptimalkan sumber daya dan potensi domestik agar tidak terlalu bergantung kepada negara lain, khususnya untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kepentingan nasional.
Baca Juga:
Amelia Anggraini: Rivalitas Global Harus Perkuat Sentralitas ASEAN, Bukan Jadikan Asia Tenggara Arena Kompetisi
“Bahwa dengan kondisi seperti ini, kita harus menyadari tentang potensi kita yang cukup besar. Ide tentang kedaulatan energi, tentang kedaulatan pangan yang disampaikan Presiden adalah ide yang sangat cocok dengan kondisi sekarang,” ujar Syahrul dikutip dari situs resmi DPR RI, Sabtu (15/8/2026).
Ia menjelaskan, kedaulatan energi dan pangan merupakan bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan nasional.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri, terutama untuk komoditas strategis, dinilai dapat menjadi tantangan tersendiri ketika terjadi gejolak ekonomi maupun konflik geopolitik.