Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai konsumen energi, tetapi secara bertahap mampu menjadi negara yang memiliki kapasitas produksi energi sendiri sehingga kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi dengan lebih mandiri.
Meski demikian, Syahrul menegaskan bahwa upaya membangun kedaulatan nasional bukan berarti Indonesia harus menutup diri dari hubungan ekonomi dan kerja sama internasional.
Baca Juga:
Bramantyo Suwondo Ajak Mahasiswa Perkuat Sentralitas ASEAN Hadapi Tantangan Global
Investasi asing dan kolaborasi dengan negara lain tetap diperlukan untuk mempercepat pembangunan, sepanjang pelaksanaannya memberikan manfaat bagi kepentingan nasional.
“Kita tetap harus membuka diri. Bapak Presiden menyampaikan, membuka diri untuk bekerja sama dengan negara lain, investasi tetap berjalan. Tetapi kita harus mempertahankan kedaulatan kita, bahwa silakan berinvestasi di kita, tetapi investasi yang memang mendukung dari misi-misi kita, dari target-target dan rencana-rencana kita,” ujar Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Ia menambahkan, kerja sama investasi juga perlu diarahkan agar memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
Baca Juga:
Amelia Anggraini: Rivalitas Global Harus Perkuat Sentralitas ASEAN, Bukan Jadikan Asia Tenggara Arena Kompetisi
Salah satunya melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan transfer teknologi, sehingga investasi yang masuk tidak hanya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menguasai teknologi dan mengembangkan industrinya sendiri.
Pada akhirnya, Syahrul berpandangan bahwa kemandirian di sektor energi dan pangan akan memberikan dampak yang lebih luas terhadap posisi Indonesia dalam hubungan internasional.
Ketika kebutuhan strategis dapat dipenuhi secara mandiri, Indonesia dinilai akan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai perubahan dan tekanan global.